Pengalaman Dengan OSHC Family, Hamil, dan Melahirkan di Gong (Part 2 – Pengalaman Suami)

Tidak cuma istri, suami juga wajib tahu apa yang harus dilakukan saat istrinya melahirkan. Dari pemerintah Australia sendiri hal ini diperhatikan. Keluarga yang akan memiliki anak disediakan buku selain For Mommy, juga khusus dibuatkan buku For Daddy yang berisi panduan untuk ayah. Seperti sayap, kedua orang tua harus saling membantu. Berikut pengalaman saya sebagai ayah siaga di Australia.

Pokoknya Kamis!

Malam sudah mulai larut. Waktu di HP saya sudah menunjukkan jam setengah sebelas lewat. Waktu itu saya masih browsing-browsing nggak jelas supaya mata saya cepat lelah dan tertidur. Di sisi tempat tidur saya anak saya sudah lelap, sementara istri bolak-balik ke toilet. Kehamilan istri memang sudah lewat due date, sudah 42 minggu kurang 3 hari. Kalau 3 hari ke depan tidak ada gejala apa-apa, pihak Rumah Sakit akan melakukan prosedur tersendiri; biasanya dokter akan menginduksi ibu dan menunggu. Jika belum ada tanda apa-apa maka akan dilakukan caesar. Siang 2 hari yang lalu sebenarnya kami sudah ke Ante-Natal Unit dan dilakukan pengecekan terakhir oleh Mid-Wife. Posisi bayi engaged dan 3 cm dari jalan lahir. Tapi posisi ini juga sudah seminggu yang lalu. Mereka cuma menyarankan come back next week and we will see. Bayinya sepertinya betah, jadi kami pasrah saja, terserah bayinya siapnya kapan. Tapi saya yakin sekali kalau bayi ini akan lahir hari Kamis. 100% yakin.

Istri kemudian keluar dari toilet, setelah bolak-bolak: Pah, ini sudah waktunya kayaknya, mulesnya bukan mules biasa. Saya kemudian lihat kalender di HP: 28 Desember. Hari Rabu! Mana mungkin hari ini? Kan keluarga saya dari Kakeknya saya, Bapak saya, saudara-saudara saya, saya sendiri, sampai anak pertama saya lahirnya Kamis. Masa anak ke dua saya lahir hari Rabu. Kamis United mah harusnya. Paling mules karena makan pedes saja tadi siang, pikir saya waktu itu tenang. Tapi sedetik kemudian saya baru sadar, saya cek lagi HP saya. Ya! Satu jam lagi hari Kamis! Saya langsung melek.

“Ma, ayo kontak Birthing Unit, kita siap-siap”. Saya langsung yakin bayinya akan segera lahir. Ya lahir nunggu hari Kamis.

Tiga hari lalu mid-wife memang sudah memberikan nomor kontak Birthing Unit Wollongong Hospital ke kami. Mereka juga sudah sigap dengan mem-booked kamar untuk kami dalam rentang seminggu ke depan. Saya kemudian langsung berdiri dan menenteng tas yang sudah berisi perlengkapan melahirkan seperti guideline yang sudah diberikan pemerintah negara bagian NSW dan surat-surat seperti kartu OSHC, Photocard ID, passport, dan kartu kuning kehamilan dari pemerintah NSW.

Tapi suara diseberang sana, dalam bahasa Inggris dengan tenangnya meng-guide kami dengan beberapa prosedur pertanyaan. Berapa menit sekali kamu sakit perut? Kamu melihat air ketuban keluar? Ketika jawaban dari istri tiap 15 menit sekali, dan NO, suara diseberang sana bilang: kamu di rumah saja, belum saatnya. Tidur saja yang tenang. Have a rest. Saya yang tadinya siap-siap, duduk lagi. Ya mungkin besok pagi kami ke Rumah Sakitnya. Tapi satu jam kemudian, tepat jam 11.40 air ketuban keluar dan kontraksi tiap 5 menit sekali. Sekali lagi Birthing Unit ditelpon dan mereka bilang, kamu segera ke Birthing Unit. Ada yang mengantar tidak, kami bisa siapkan ambulan. Tapi kemudian karena dia mendengan suara mesin mobil dinyalain, dia langsung nanya, ini kamu nyetir sendiri atau gimana? Saat tahu istri akan diantar sama suami siaga, dia cuma bilang OK. Anak pertama saya yang lelapnya kalau ada petasan nggak bakal bangun mau tidak mau dititip ke house mate, mbak Stepanie. Mudah-mudahan dia mengerti kalau pas nanti dia bangun nggak mencari papa sama mamanya yang lagi di Rumah Sakit.

Tidak ada Dispensasi!

Perjalanan ke rumah sakit cuma 5 menit. Yang membuat lama adalah mencari tempat parkir. Area Rumah Sakit harus bebas dari mobil, parkirnya maksimal 10 menit atau khusus ambulan. Saya nggak mau kejadian saya didenda karena overdue parking terjadi lagi. Telepon Birthing Unit lagi dan jawabannya kamu parkir di bawah saja di tempat mengantar, nanti suamimu pindahin mobilnya. Nggak ada dispensasi. Saya yang bawa istri dengan kondisi mules-mules mulai kehilangan konsentrasi, apalagi sudah tengah malam, waktunya otak saya istirahat, bukan untuk dipakai buat deg-degan ria seperti sekarang. Parkir saya agak miring, tapi tidak ada waktu buat meluruskan, yang penting istri harus sampai Birthing Unit lebih dulu. Saya juga berharap tidak ada kamera keamanan saat saya parkir di posisi ambulan, lebih dekat ke pintu rumah sakit. Untungnya waktu itu kami masuk melalui pintu Emergency Unit. Nurse masih berjaga. Istri kemudian diantar menggunakan kursi roda ke Birthing Unit melalui bagian Emergency Unit.

Saat saya yakin istri sudah ditangani mid-wife, saya izin sebentar buat memindahkan mobil yang kalau saya parkirnya siang pasti kena denda. Memindahkan mobil dari area rumah sakit ke luar ternyata susah. Karena sudah malam, parkir disekitar Rumah Sakit dipakai oleh warga sekitar untuk memarkir mobilnya di jalan, jadi saya cukup memutar-mutar mencari tempat kosong. Sampai saya lihat satu spot kosong di samping rumah sakit. Terlihat seperti ada tulisan: reserved for you mate, ayah siaga. Ah kata saya, terimakasih banyak buat yang menyediakan 1 parkiran lowongan. Setengah jam kemudian baru kembali lagi ke Birthing Unit. Ternyata prosedur ke Rumah Sakit waktu malam: pintu utama ada di Emergency Unit. Sementara saya masuk lagi lewat pintu yang lain dimana untuk masuk harus mencet bel dan nongolin muka kita ke kamera:

Sambil ngepasin muka di kamera “Hi, my wife will deliver a baby“.

Tidak ada tanggapan.

Kemudian ada suara dari bel bilang jump in 10 detik kemudian, baru pintu terbuka, dan saya pun melompat-lompat seperti Kanguru sesuai instruksi security (ok ini lebay). Karena masuknya memutar, saya setengah jam kemudian baru menemani istri lagi di Birthing Unit. Disana mid-wife memeriksa istri dan memasang alat di perut istri saya untuk memantau kondisi bayi dan kontraksi.

Pelayanan Macam Apa ini?

Do you want to accompany her in here or just take a rest at home? Kata mid-wife yang memeriksa istri tadi.

Ya nemenin dong ah. Suami siaga macam apa saya pulang ke rumah saat istri melahirkan gini.

Mid-wife tadi kemudian menyuruh saya berdiri, mengambil kursi saya dan menggesernya. Saya bingung dan kaget. Saya pikir Rumah Sakit mungkin memang harus buat yang sakit saja. Si ayah siaga ini di sini hanya mengganggu saja. Saya seperti diusir, nggak diberi kursi duduk. Saya merenung saja sambil berdiri.

Tapi semenit kemudian ternyata anggapan saya salah. Mid-wife tadi tiba-tiba mendorong kursi sofa yang bisa dipakai buat selonjoran masuk ke ruangan. Kursi yang lebih nyaman dari sebelumnya saya duduki. Kursi yang sebelumnya keras.

Please make yourself comfortable. Kata dia sambil menyerahkan selimut hangat (sepeti habis dari pemanas).

Ya, support ayah ternyata sangat penting saat ibu melahirkan di Australia. Jadi ayah juga harus dibuat nyaman senyaman ibu yang akan melahirkan. Saya kemudian ditunjukkan dapur, snack yang bisa saya ambil gratis, cara membuat kopi sendiri, teh, dan jus. Ya. Pelayanan macam apa ini? Rumah sakit, tapi saya merasa senyaman di rumah. Kalau perlu sesuatu tinggal pencet emergency button. Seperti jin Aladin, mid-wife akan muncul tidak lebih dari satu menit. Plop!

Penantian 5 jam

Selama kontraksi dan penantian menunggu bayi lahir, saya cuma bisa menatap istri saya sambil mengelus-elus kepalanya, berharap bisa meringankan sakitnya, mungkin, tapi sepertinya pengalaman sakit sebelum melahirkan itu dibuat sebagai penggugur dosa buat ibu, jadi tetap sakit. Selama itu, mid-wife datang tiap satu jam. Tapi akhirnya dia mempersilakan kami tidur (yang sebenarnya tidak ada yang tidur nyenyak malam itu).

Saat mid-wife juga mengecek kembali posisi bayi, ada kejadian yang saya pikir ini agak lebay. Mereka taat sekali dengan prosedur (seperti tipikal orang Australia yang saklek). Jadi, si mid-wife lupa mengambil alat di dalam lemari. Bukannya dia mengambil sendiri, tapi malah memencet emergency buttondan meminta temannya yang mengambilkan. Dia bilang, Sorry, I had been sterilized my self, so I called you. Could you please take that for me. Jadi dia manggil temennya cuma buat bukain lemari yang ada di depan dia karena pakaian sama tangan dia sudah dicuci di kamar sebelah. Ok, mungkin buat saya ini agak lebay, tapi ternyata dia menunjukkan profesionalitasnya dalam melayani pasien dengan mengikuti prosedur yang ada. Saya jadi tambah respek dan yakin istri saya pastinya mendapatkan yang terbaik melahirkan di sini.

Waktu sekarang bergeser pukul 3.40, saatnya Azan subuh. Saya mengambil air wudhu di toilet di luar kamar, sementara istri tayamum dulu. Ini sholat terakhir istri untuk 40 hari ke depan batin saya. Jadi saya mencoba khusuk mengimami dan berdoa semoga persalinan lancar. Seperti ada bisikan, bayinya akan lahir jam 6 saat matahari terbit. Jadi setelah saya selesai sholat, saya bilang ke istri, siap-siap satu jam lagi dede bayinya mau keluar.

Tepat jam 5 ternyata memang mid-wife memang memindahkan istri dari kamar ke tempat persalinan setelah melihat laporan yang keluar di mesin monitor. Dia bertanya, kamu bisa jalan sendiri atau naik kursi roda? Tapi setelah tahu kamar dan tempat persalinan depan-depanan, akhirnya istri jalan kaki saja. Saat itu jam 5 subuh, hari masih gelap di luar. Lama juga persiapan yang dilakukan hampir sekitar 1/2 jam. Sambil menunggu, saya memandang ke jendela. Jendela birthing unit ini memang menghadap ke pantai Wollongong. Karena di lantai 2, saya bisa melihat gugusan 5 Islands dalam remang-remang subuh. Dalam cerita Aborin, 5 Islands ini ada hubungannya dengan Mount Keira, mereka satu saudara. Ini juga yang menjadi alasan saya mengambil Keira sebagai nama tengah anak saya kemudian. Saya kemudian minta izin ke mid-wife untuk membuka tirai jendela, jadi istri juga bisa melihat indahnya pantai Wollongong, setidaknya pemandangan ini dapat menenangkan.

Saat mid-wife membuka tirai, dia bertanya:

“Have you both already took a pray? I heard that Muslim need to pray in the dawn like this?”

Saya kaget, ternyata si ibu bidan baik banget ngingetin kami sholat karena melihat kami dari Indonesia yang pastinya dia menebak kami muslim, selain itu karena istri pakai jilbab juga. Kata dia, kamu bisa sholat dimana saja, masih ada space di ruangan. Saya bilang, kami tadi sudah sholat di kamar sebelah, terimakasih ngingetin. Dia bilang ok, tapi maaf kamar tadi kayaknya sempit.

Gunting Pita Peresmian

Pukul 6 kurang 6 sunrise terlihat jelas dari jendela, pemandangannya begitu indah dari balik jendela. 5 Islands mulai kelihatan dengan memantulkan sinar matahari. Istri juga mulai sering kontraksi. Dua mid-wifepun datang dan memulai proses persalinan. Mereka sibuk memberi semangat agar persalinan spontan dan normal. Itu yang sangat mereka harapkan dari pasiennya dan jadi kebahagian mereka. Kami sebisa mungkin tidak mengiduksi, karena kasihan nanti bayinya dipaksa lahir. Opsi caesar juga kami hindari. Lebih baik kelahiran spontan dan normal. Kamu bisa melakukannya. Begitu mereka bilang.

Setelah beberapa lama, pukul 6 lewat 20 suara tangisan bayi pecah. Iya, anak kedua saya Aziza Keira Rahmania lahir saat fajar, saat matahari naik memantulkan sinarnya di pantai Wollongong, dan di 5 Islands. Proses kelahiran terbilang singkat, kurang dari 10 menit. Mereka bilang Congratulation, It is a baby girl. Kami spontan mengucapkan Thank you very much for your help. Thank you…

Mid-wife kemudian menitipkan gunting bedah ke saya. Saya pikir karena mereka lagi riweuh, jadi dia menyuruh saya memegang gunting. Tapi setelah beberapa saat setelah bayi ditaruh di dada ibunya, mid-wife bilang gini dengan mata yang menyuruh:

“You must cut this one as a father”.

Dia membentangkan tali pusar yang menghubungkan antara ibu dan bayi. Saya agak ragu, tapi dia meyakinkan lagi. Cut it, it just feels like calamari. Ok, ini seperti gunting pita peresmian bahwa anak saya lahir.

Ternyata mereka tidak mau menghilangkan momen seperti ini. Ayah dianggap yang juga bertanggungjawab terhadap proses kelahiran, dan ini saatnya meresmikan anak telah lahir, berpisah dari rahim ibunya. Ckrek…

Dokter anastesi kemudian datang, karena istri perlu jahitan. Sebenarnya mereka menghindari melakukan guntingan di jalan lahir karena dianggap menambah luka, tapi luka kali ini karena bekas guntingan anak pertama, kata sang Dokter Anastesi. Dia kemudian mewawancara saya apakah istri ada alergi, pertanyaan prosedural lainnya, dan saya disuruh tanda tangan.

Saya lihat mid-wife mengajari bayi menyusu. Iya, si bayi langsung disuruh menyusu, di dekap di dada ibu yang hangat, skin to skin, kata dia, karena membantu bayi belajar menyesuaikan suhu di perut ibu dengan dunia luar. Jadi dua jam setelah melahirkan bayi tidak dipisahkan dengan ibunya. Sempat ditegur saat bayi saya taruh di box. Bayimu suhunya turun, harusnya tetap digendong ibu, skin to skin. Bayi belum bisa menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu luar walaupun diberi selimut. Satu lagi, ternyata prosedur kelahiran di Australia, bayi tidak dimandikan selama 2 hari. Saya awalnya berpikir air ketubannya kemana-mana apa nggak malah mengundang kuman. Tapi ternyata setelah dua jam, air ketuban bayi saya seperti menyerap ke kulit, dan bikin kulitnya bersih. Jadi, pelajaran saya, ternyata bayi baru lahir, biarkan air ketubannya membantu kulit bayi beradaptasi dengan lingkungan, jangan dibersihkan.

Bayarnya Gimana???

Setelah ibu disuruh mandri dan membersihkan diri, pukul 11 kami dipindahkan ke kamar post-natal unit. Disana ibu dan bayi diimunisasi. Dokter juga mengunjungi untuk memeriksa keduanya. Di post-natal unit tidak terlalu lama karena melihat kondisi ibu dan bayi baik, jadi istri dan anak saya hanya sehari disana. Ditanya sudah bisa jalan? Kalau sudah bisa, berarti kamu istirahat di rumah saja.

Yang menjadi pikiran saya selanjutnya adalah gimana bayarnya. Saya dulu pernah tanya ke diaspora di Wollongong, biaya kelahiran sekitar $4000 dollar. Jadi sesaat sebelum pulang, masih pola pikir Indonesia banget, saya tanya: kami boleh pulang sekarang? terus tagihannya berapa ya?

Si suster kemudian agak bingung, tapi dia bilang, di Australia, kalau dokter sudah bilang kamu sehat dan boleh pulang, artinya kamu bebas pergi dari rumah sakit. Urusan biaya itu urusan bagian finance, bukan urusan kami disini. Saya juga nggak tahu biayanya berapa. Tapi kalau kamu punya asuransi, bagian finance yang bantu mengklaim ke pihak asuransi, kalau ada masalah nanti kamu ditelpon.

Iya, ternyata ini Australia, saya gak perlu takut kalau saya disandera rumah sakit karena gak bisa bayar, ternyata yang penting pasien sehat, kita boleh pulang. Bagian finance nanti yang ngotot-ngototan nagih ke pihak asuransi, bukan pasien yang mikirin bayaran dan prosedur semua itu.

Terimakasih Banyak….

Iya dalam tulisan ini saya juga mau mengucapkan terimakasih banyak kepada rekan-rekan PPIA UOW semua..

Lahir sendiri jauh dari orang tua itu berat. Bisa dibayangkan, kalau ada orang tua, pastinya dibantu segala macamnya. Posisi orang tua ini digantikan oleh rekan-rekan mahasiswa disini, dan kami tidak kesepian dan kerepotan sendiri. Sehari setelah melahirkan, beberapa rekan-rekan PPIA UOW mengunjungi dan membantu setelah kelahiran. Jadi terimakasih banyak semuanya atas bantuannya.

Sebenarnya, sharing cerita ini masih panjang. Setelah melahirkan ada yang berbeda dari kelahiran di Indonesia. Perhatian negara terhadap bayi dan keluarga yang melahirkan begitu besar. Apa saja itu? InsyaAllah saya sharing di tulisan selanjutnya, Part 3.

Posting SebelUmnya:

Pengalaman dengan OSHC family, hamil, dan melahirkan di Gong (Part 1 – OSHC family)

Pengalaman Dengan OSHC Family, Hamil, dan Melahirkan di Gong (Part 2 – Pengalaman Suami)

One thought on “Pengalaman Dengan OSHC Family, Hamil, dan Melahirkan di Gong (Part 2 – Pengalaman Suami)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *