Diari Ibu: memotret lahan penunjang bertumbuh kembangnya budaya literasi di Australia

Catatan ini merekam langkah pengalaman saya sebagai ibu yang mendampingi kedua gadis kecilnya memasuki dunia literasi di negeri Kanguru. Saya akan mengawalinya dengan menuturkan secara singkat proses yang membawa saya ke negeri ini dan kemudian menggambarkan keterlibatan kami dalam praktek sosial berbasis literasi.

Saya adalah dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas  Pendidikan Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi doktoral di Australia. Tepatnya, di kota Wollongong yang juga dikenal dengan nama The Gong. Nama kota Wollongong yang terdengar mirip dengan kota-kota di Garut seperti Malangbong dan Bayongbong ini diambil dari bahasa Aborigin lokal yang salah satu maknanya adalah “Nyanyian sang Laut”. Penduduknya yang berjumlah sekitar 203.500 dengan luas 714 km2 menjadikan the Gong sebagai kota terbesar ketiga di negara bagian New South Wales setelah Sydney dan Newcastle. Kota ini dikelilingi pegunungan dan pantai-pantai yang indah tidak jauh dari kota Sydney. Serupa jarak Jakarta – Bandung.  Meski dapat ditempuh dari kota metropolitan Sydney kurang lebih satu setengah jam dengan kereta api, the Gong menawarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk pikuk Sydney. Oleh karena itu, tempat ini saya rasakan cocok untuk dijadikan tempat menimba ilmu.

University of Wollongong (UOW), Faculty of Social Sciences, School of Education adalah tempat saya bergelut dengan program S3 saya. Pendanaan saya dapatkan dari beasiswa International Postgraduate Research Scholarship (IPRS) dan University Postgraduate Award (UPA)1. Keduanya beasiswa dari pemerintah Australia yang dikelola langsung oleh universitas-universitas di Australia yang tergabung dalam program tersebut. Beasiswa ini ditawarkan bersamaan dengan aplikasi pada universitas yang dituju. Berbeda dengan beasiswa lainnya yang diberikan pemerintah Australia, pembiayaan yang disediakan kedua beasiswa ini mencakup biaya kuliah, biaya hidup untuk mahasiswa yang bersangkutan, dan biaya asuransi untuk mahasiswa beserta keluarganya yang menemani selama masa studi. Biaya-biaya lain seperti tiket pesawat, biaya field work ataupun pembelian buku tidak termasuk tanggungan beasiswa ini. Begitu pula dengan fasilitas diskon untuk transportasi, biaya penitipan anak ataupun diskon-diskon lain yang biasanya bagian dari layanan beasiswa pemerintah Australia.

Meskipun keterbatasan fasilitas ini di awal tampak menyesakkan dada, keterbatasan ini pula yang membawa saya untuk bisa ‘membaca’ lebih baik penanaman budaya literasi di Wollongong.

Perjumpaan pertama dengan lingkungan akademis yang ramah anak

Salah satu hal yang paling saya khawatirkan di awal masa studi adalah pengasuhan anak bungsu saya yang masih berumur empat tahun. Ia belum didaftarkan ke sekolah karena belum cukup usia untuk masuk di sekolah dasar. Jenjang sekolah dasar di New South Wales berawal dari kindergarten (umur 5 tahun) sampai dengan Kelas 6. Untuk jenjang pendidikan ini, tidak ada biaya yang dibebankan pada orang tua yang merupakan mahasiswa pasca-sarjana dengan komponen riset atau mahasiswa internasional penerima beasiswa pemerintah Australia. Meskipun saya bisa bernapas lega karena anak saya yang berumur 10 tahun dapat sekolah dengan gratis, tidak demikian dengan si bungsu.

Mencari lembaga penitipan anak di Wollongong bukan merupakan perkara mudah. Selain tingkat okupansi yang tinggi, biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit. Tanpa subsidi dari pemerintah, biaya untuk penitipan ini berkisar AUS$ 77 sampai dengan AUS$100 per hari.2 Dengan angka fantastis seperti itu, biaya hidup dari beasiswa tidak bisa diandalkan. Alternatif harus ditempuh agar si bungsu tidak terlantar dan studi si ibu lancar.

Dimulailah perjalanan si bungsu menjadi pendamping ibu di setiap mata kuliah, workshop, pertemuan senat mahasiswa, dan hari-hari panjang di ruang kerja Higher Degree Research (HDR) students. Berbekal pensil warna, krayon, gunting, buku mewarnai dan berbagai macam cemilan, si bungsu menjadi ‘bagian’ dari civitas akademia pendidikan tinggi. Kegiatan literasi seperti membaca, menulis, presentasi, dan diskusi sudah tidak asing bagi si bungsu. Meskipun saya tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan proses kognisinya ketika berinteraksi di lingkungan tersebut, saya yakin interaksi berulang itu akan memberikan kesan bahwa membaca dan menulis memiliki peranan penting dalam kehidupan. Dukungan lingkungan yang mengijinkan saya membawa si bungsu membuat saya semakin bersemangat untuk belajar dan memenuhi target saya tahun itu. Belakangan saya juga mengetahui bahwa kampus Wollongong memiliki misi memperkenalkan universitas pada anak-anak sejak dini dengan tujuan memotivasi mereka untuk melanjutkan studi ke universitas lepas pendidikan wajib.

Ketika saya tidak sibuk dengan urusan kampus, saya pun berpetualangan ‘blusukan’ secara virtual dan juga secara nyata. Dengan kemajuan informasi teknologi, saya mengetahui banyak hal yang ditawarkan kota ini untuk literasi dan pendidikan anak secara gratis ataupun dengan dana yang minim.  Beberapa fasilitas yang ingin saya sampaikan di sini adalah Wollongong City Library3, Early Start Discovery Space4 dan Wollongong Botanic Garden5.

Wollongong City Library

Perpustakaan yang terletak di pusat kota Wollongong menawarkan berbagai macam fasilitas dan kegiatan selain menyediakan dan meminjamkan buku. Salah satu program yang paling saya sukai adalah Kids’ Activities. Program ini memberikan layanan literasi untuk bayi  sampai dengan anak usia sekolah dasar. Keberadaan fasilitas umum ini menunjukkan bahwa belajar sepanjang hayat sejak buaian bukan hanya sekadar slogan tetapi telah menjadi bagian penting dari masyarakat the Gong.

Program literasi yang dirancang di perpustakaan milik pemerintah ini menawarkan kegiatan yang disesuaikan dengan usia anak. Walaupun literasi terkait erat dengan kegiatan baca tulis, program yang dirancang bagi anak-anak pra-sekolah berkisar pada pengenalan bahasa dan cerita. Hal ini berlandaskan pada fakta bahwa penguasaan bahasa lisan sudah secara otomatis akan diperoleh anak-anak melalui interaksi dengan lingkungan terdekatnya tetapi penguasaan bahasa tulis akademis memerlukan proses yang lebih panjang dengan kegiatan yang direncanakan.   Berdasarkan prinsip ini, kegiatan berbasis literasi sudah diperkenalkan pada anak-anak sejak usia dini.

Pengenalan literasi bagi anak pra-sekolah tidak mengajarkan baca tulis secara bottom-up. Tidak diawali dengan pengenalan huruf-huruf dan cara membaca kata per kata. Program yang dikemas perpustakaan menawarkan praktek-praktek literasi yang memiliki fungsi sosial nyata. Misalnya membaca cerita agar terhibur dan juga mendapatkan pesan moral yang edukatif. Nyanyian dan tarian sederhana serta kegiatan kerajinan tangan selalu menemani kegiatan storytelling. Nursery rhymes dan lagu-lagu yang mengedepankan rima dari kata-kata di dalamnya dapat bersinergi dengan buku-buku yang ditulis untuk anak-anak.  Integrasi kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak Australia untuk lancar membaca dan menulis yang serigkali terkendala salah satunya dengan tulisan dan pelafalan bahasa Inggris yang berbeda.

Wollongong Botanic Garden (WBC)

WBC mengingatkan saya akan Taman Hutan Rakyat Ir. H. Djuanda di Dago Pakar, Bandung. Meskipun tidak sama persis, keduanya memberikan kenyamanan dan keindahan dari tetumbuhan yang ada.  Kebun besar yang berlokasi tepat di depan kampus UOW menawarkan pemandangan beragam flora  mulai dari yang khas tumbuh di dataran kering seperti gurun, hutan tropis, sampai dengan yang khas daerah empat musim. Sebagai lahan terbuka hijau, kebun ini menjadi salah satu destinasi rekreasi keluarga untuk berpiknik, berolah raga, resepesi pernikahan, ulang tahun, atau sekadar kongkow-kongkow santai. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, kalau di kebun yang luas nan hijau ini ada satu area dengan beberapa bangku taman ditemani dua rak buku besar. Area ini dinamai Outdoor Reading Room. Lokasinya tidak jauh dari tempat bermain anak sehingga orang tua dapat membaca sambil menunggu anak bergelantungan di ayunan. Ruang tanpa dinding ini membebaskan pengunjung untuk membaca dan meminjam buku dan bahkan ‘meninggalkan’ buku untuk disimpan menjadi koleksi kebun agar kemudian dapat dibaca oleh pengunjung lainnya. Luar biasa. Dari sedekah pengunjung cinta membaca inilah koleksi buku di dua rak besar ini terus berkembang.

Meskipun misi utama pendidikan kebun ini adalah memperkenalkan jenis-jenis flora dan cara penanaman serta perawatannya, program literasi tidak juga terabaikan. Dari sekian banyak program berkebun, beberapa program literasi seperti storytelling dan drama pun ditawarkan pada pengunjung. Melalui website, pihak kebun ini mengundang ide dari para pengunjungnya untuk memberikan saran ataupun ide mengenai judul cerita yang akan dibacakan. Cerita ataupun lakon drama yang ditampilan bervariasi dari cerita anak yang populer hingga kisah-kisah yang berkenaan dengan tema lingkungan.  Dengan demikian praktek literasi selalu dikaitkan dengan konteks dan fungsi sosialnya. Dari kedua tempat ini saja saya sudah merasakan bahwa semua unsur fasilitas kota bersinergi untuk membangun literasi warganya sejak usia dini.

Early Start Discovery Space

Berbeda dengan dua tempat sebelumnya yang bebas biaya, Early Start Discovery Space yang berlokasi di University of Wollongong memungut biaya masuk. Meskipun ada uang yang harus dibayarkan, wahana ini memberikan manfaat yang setara. Dibangun pada tahun 2012 sebagai bagiand dari Faculty of Social Sciences, fasilitas ini resmi beroperasi pada tahun 2015 dengan visi bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan terbaik untuk memulai kehidupannya. Dengan mengedepankan pentingnya bermain dalam proses belajar anak, fasilitas ini menawarkan program dan kegiatan yang melibatkan orang tua/orang dewasa berinteraksi dengan anak dan saling berbagi pengalaman. Penggagas fasilitas ini meyakini bahwa melalui permainan yang kreatif dan imaginatif, anak-anak disiapkan sejak dini untuk menghadapi sekolah dan kesempatan belajar di sekolah dengan lebih baik.

Berkolaborasi dengan institusi pendidikan usia dini seperti pre-school dan tempat pentitipan anak yang tersebar luas di daerah New South Wales dan Ibukota Canberra, fasilitas ini memberikan pengalaman belajar yang terbaik bagi anak-anak Australia, terutama yang berasal dari kalangan yang kurang beruntung. Ditinjau dari segi pembiayaan, keanggotaan untuk setahun di fasilitas ini setara dengan biaya pre-school untuk sehari. Sebagai anggota, anak-anak dan orang tuanya dapat menikmati fasilitas tanpa batas waktu. Dengan demikian, fasilitas ini menawarkan alternatif pada orang tua untuk dapat memberikan kesempatan belajar pada anak tanpa biaya yang melangit.

Permainan yang ditawarkan meliputi permainan fisik dan digital di mana anak-anak memiliki kebebasan untuk menjelajahinya secara independen. Tidak hanya permainan dengan berbagai tema, ruang untuk menumbuhkan minat membaca pun tersedia.  Buku yang ditawarkan pun beragam bentuk dan bahan, disesuaikan dengan jangkauan usia pengunjung. Yang menarik, setiap hari di ruang membaca selalu ada dua slot waktu, di pagi dan siang hari, untuk acara storytelling.  Yang membacakan cerita di ruang tersebut adalah para sukarelawan yang bertugas di fasilitas tersebut. Keterlibatan sukarelawan di fasilitas tersebut tidak sekadar menekan pembiayaan operasional fasilitas tersebut. Sukarelawan yang sebagian besar direkrut dari mahasiswa Jurusan Pendidikan mendapatkan manfaat resiprokal dari fasilitas ini. Para sukarelawan dapat berinteraksi dan mengamati secara langsung bagaimana anak belajar dan sekaligus berpartisipasi dalam proses belajar mereka. Sebagai salah satu volunteer di fasilitas tersebut, saya beruntung karena selalu pulang dengan membawa ‘oleh-oleh’ untuk si bungsu seperti lagu anak-anak, nursery rhymes, cerita ataupun kerajinan tangan sederhana.

Di penghujung tulisan singkat ini, saya ingin menyampaikan benang merah persemaian budaya literasi di Wollongong. Hampir seluruh fasilitas umum bersinergi mendukung tumbuh kembang budaya literasi pada generasi muda mereka.  Di tengah maraknya inovasi teknologi dan keragaman pembangunan, storytelling kerap hadir untuk menjembatani kemampuan literasi anak-anak usia dini. Bahkan ketika ada acara festival dan karnaval pun, storytelling selalu muncul sebagai salah satu agenda program.  Kegiatan yang tampak sederhana tapi dimunculkan berulang kali dalam berbagai kesempatan di masyarakat menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari keseharian warga Wollongong sejak dini.

Pengalaman berliterasi sejak usia prasekolah dapat berdampak positif pada kesiapan anak-anak menghadapi budaya akademik di sekolah. Kemampuan bercerita baik secara lisan maupun tulisan, mengapresiasi cerita, dan mereviu cerita secara kritis merupakan bagian penting dari kurikulum pendidikan dasar di NSW. Melalui cerita tidak hanya bahasa yang berkembang melainkan kearifan dan pembentukan karakter pun turut terbangun. Metode edukasi yang sudah diturunkan sejak jaman dahulu kala oleh nenek moyang kita masih tumbuh subur di Australia. Bagaimana dengan Indonesia?

Biodata:

Ika Lestari Damayanti adalah dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UPI sejak tahun 2001. Ika menempuh pendidikan S2 di University of Warwick, Inggris, dan meraih gelar MA in English Language Teaching for Young Learners tahun 2006 melalui beasiswa Hornby Trust Scholarship, the British Council. Sejak saat itu, topik penelitian yang dilakukannya berkisar pada metode pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi anak usia dini. Salah satu area yang secara intensif dieksplorasi dalam penelitiannya adalah storytelling dan peranannya dalam pembelajaran anak. Topik ini pula yang mengantarkannya untuk melanjutkan studi S3 di University of Wollongong, Australia, sejak tahun 2014 melalui beasiswa IPRS dan UPA dari pemerintah Australia. Penelitian doktoralnya berjudul Cerita (Stories): A Pedagogical Model for Teaching Story Genres to Lower Secondary School Students in Indonesia. Untuk korespondensi, Ika dapat dihubungi di ika.lestari.damayanti@gmail.com.

Tautan:

  1. IPRS scholarships https://www.education.gov.au/international-postgraduate-research-scholarships
  2. Childcare and preschool information http://www.parents-guide.com.au/local-directory/development-play/childcare-preschools
  3. Wollongong City Library http://www.wollongong.nsw.gov.au/library/activities/kidsprograms/Pages/default.aspx
  4. Wollongong Botanic Garden http://www.wollongong.nsw.gov.au/botanicgarden/Pages/default.aspx
  5. Early Start Discovery Space, University of Wollongong http://earlystartdiscoveryspace.edu.au/

 

Diari Ibu: memotret lahan penunjang bertumbuh kembangnya budaya literasi di Australia

One thought on “Diari Ibu: memotret lahan penunjang bertumbuh kembangnya budaya literasi di Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *